Bayangkan: setiap Minggu pagi, kalian duduk di kedai kopi yang sama. kamu pesan kopi satu espresso double shot, dia selalu vanilla latte. Obrolan mengalir dari cuaca sampai mimpi yang belum kesampaian. Ada tawa, ada diam-diam yang nyaman, bahkan kadang… jari-jari kalian hampir bersentuhan. Tapi kenapa ya, kalian tak pernah melangkah lebih jauh? Ini bukan sekadar puisi, ini cerita tentang kalian yang terjebak di zona “lebih dari teman, kurang dari pacar”. Tentang rindu yang mengendap di dasar cangkir, tentang “aku mau kamu” yang berubah jadi “kopimu enak, ya?”. Yuk, baca sampai habis… siapa tahu kamu nemu clue buat move on, atau malah akhirnya move forward? 😉
Kopi Satu, Hati Dua
Di meja kayu tua, aroma kopi menari,
Langit mendung jadi saksi yang tak pernah pergi,
Mereka duduk, dua jiwa dalam sunyi,
Tapi cinta tak pernah benar-benar berani.
Setiap minggu, waktu berputar pelan,
Langkah kaki mereka seperti hujan di awan,
Datang bersama, pulang dengan keraguan,
Hati bicara, tapi mulut penuh pertahanan.
Kopi satu, tapi rasa terbagi dua,
Seperti senja yang tak tahu harus ke mana,
Matanya menatap, tapi tak pernah menyapa,
Ada cinta, tapi tak punya nama.
Burung-burung terbang di langit jingga,
Seperti harapan yang tak pernah tiba,
Mereka tertawa, tapi hati berduka,
Cinta ini seperti bayang di kaca.
Angin menyapa daun yang gugur perlahan,
Seperti rindu yang tak pernah disampaikan,
Mereka bicara tentang hal-hal ringan,
Padahal hati ingin lebih dari pertemanan.
Langit sore memerah seperti luka,
Mereka tahu, tapi tak pernah membuka,
Cinta ini seperti bunga di musim duka,
Indah, tapi tak bisa dipetik begitu saja.
Gelombang di danau tenang beriak,
Seperti hati yang diam-diam retak,
Mereka hadir, tapi tak pernah lengkap,
Cinta ini seperti mimpi yang tak bisa ditangkap.
Cangkir kopi tinggal setengah isi,
Seperti hati yang tak pernah penuh di sisi,
Mereka saling tahu, tapi tak berani,
Cinta ini seperti puisi yang tak selesai ditulis lagi.
Mentari tenggelam di balik jendela,
Seperti harapan yang perlahan sirna,
Mereka pamit dengan senyum yang biasa,
Padahal hati ingin berkata: “Jangan pergi dulu, ya.”
Langkah kaki menjauh di trotoar sepi,
Seperti janji yang tak pernah diberi,
Mereka berpisah tanpa kata pasti,
Cinta ini seperti hujan yang tak jadi.
Bulan menggantung di langit kelabu,
Seperti rasa yang tak pernah bersatu,
Mereka kembali minggu depan, begitu-begitu,
Cinta ini seperti lagu tanpa lagu.
Daun jatuh di pangkuan bumi,
Seperti cinta yang tak pernah dimiliki,
Mereka hadir, tapi tak pernah jadi,
Cinta ini seperti pelangi yang tak bisa dimiliki.
Kopi dingin, tapi hati masih hangat,
Seperti kenangan yang tak pernah tamat,
Mereka tahu, tapi tetap terikat,
Cinta ini seperti rahasia yang tak pernah diungkap.
Langit pagi menyambut dengan kabut,
Seperti cinta yang tertutup lembut,
Mereka bertemu, tapi tetap takut,
Cinta ini seperti jalan yang tak pernah ditutup.
Kopi satu, hati dua,
Pertemuan rutin yang tak pernah jadi cerita,
Mereka ada, tapi tak pernah bersama,
Cinta ini… hanya ada di antara aroma dan kata.
Makna Puisi: Kopi Satu, Hati Dua: Cinta yang Tak Pernah Jadi Milik
Puisi ini tuh kayak highlight reel dari dua orang yang stuck di fase “more than friends, less than lovers”. Bayangin deh: setiap Minggu pagi, mereka meet up di kafe langganan, pesan kopi favorit, ngobrol dari hal receh sampe mimpi-mimpi besar. Tapi di balik semua good vibes itu… ada yang missing. Kayak langit kelabu yang tease mau hujan, tapi ujung-ujungnya cuma drizzle doang, basahnya nggak worth it buat bawa payung.
Alam di puisi ini tuh jadi spoiler perasaan mereka:
- Langit mendung = vibe-nya heavy banget, tapi nggak ada yang berani break the ice buat ngungkapin.
- Daun berguguran = semua chances yang mereka lewatin, sambil pura-pura nggak ngerasa butterflies in the stomach.
- Kopi yang makin dingin = timing yang selalu salah, sampe akhirnya rasa itu expired sendiri.
Yang bikin relate banget tuh, puisi ini nggak judge hubungan “almost” kayak gini. Justru dia ngasih hug buat semua orang yang pernah ngerasain: “Hey, it’s okay kok kalau kalian nggak pernah jadi ‘kita’. Sometimes love is about the ‘what ifs’ and the ‘could’ve beens’.”
Nggak semua cerita cinta harus punya ending happily ever after. Ada yang cuma meant to be jadi seasonal, kayak musim hujan yang dateng, basahin hati, terus pergi. Tapi justru di moment-moment kayak gitu, kita belajar: cinta tuh nggak harus dimiliki buat dihargai.
So, kalau kamu pernah ngerasain hal yang sama… anggap aja itu kopi spesial yang cuma bisa dinikmati di kedai tertentu, di jam-jam tertentu. Langka, tapi bikin melek. ☕💘
Kadang, hidup mempertemukan kita dengan orang yang bikin hati hangat, tapi bukan untuk dimiliki. Seperti kopi yang kita nikmati tiap minggu, rasanya akrab, tapi nggak pernah jadi milik penuh. Dan itu nggak salah. Karena cinta juga bisa hadir dalam bentuk yang sederhana: pertemuan, tawa, dan diam-diam saling peduli.
Kalau kamu pernah ngerasain hal yang sama, jangan sedih. Justru itu bukti kalau hatimu pernah hidup, pernah bergetar, dan pernah mencintai dengan cara yang paling manusiawi. Ingat, nggak semua cinta harus jadi milik. Tapi semua cinta layak dikenang.
Suka puisi yang bikin hati hangat tapi nyesek? Yuk, selami kisah-kisah rasa lainnya di Bintang Senja – siapa tahu ada yang lebih ngena dari secangkir kopi! ☕💔