Gema Rindu di Grup Kosong
Gema Rindu di Grup Kosong

Gema Rindu di Grup Kosong: Sunyi yang Tak Pernah Membalas

Diposting pada

Ada yang pernah nulis puisi rindu di grup chat, tapi… ghosted sama silence? 🙃
Bayangin: kamu ngetik panjang lebar, hati berdebar nunggu respons, eh… cuma ‘read’ doang. Bahkan emoji aja enggak. Halah. Nah, puisi ‘Gema Rindu di Grup Kosong’ lahir dari situasi awkward itu – rindu yang menggema di ruang kosong, sunyi yang jadi pendengar setia (tapi nggak pernah ngebalas). Buat kamu yang pernah ngerasain, sini kita sedih bareng… tapi dengan estetika puisi, ya! ✨

Gema Rindu di Grup Kosong

Ia mengetik rindu di layar senyap,
huruf-huruf jatuh seperti hujan gelap.
Grup kosong tak beri jawab,
hanya sunyi yang terus menyerap.

Langit malam jadi saksi bisu,
awan menggulung rasa yang pilu.
Bintang pun enggan menyapa dulu,
seperti nama yang tak lagi tertuju.

Ia kirim pesan tanpa harap,
seperti daun gugur di angin lelap.
Tak ada “seen”, tak ada tangkap,
hanya gema yang terus mengendap.

Rindu itu seperti kabut pagi,
menyelimuti hati yang sunyi.
Grup itu bagai lembah sepi,
tak ada suara, tak ada janji.

Ia menulis dengan jari gemetar,
seperti akar mencari air segar.
Namun tanahnya sudah mengakar,
pada sunyi yang tak pernah sadar.

Burung pun tak berkicau lagi,
di pohon tempat ia menanti.
Rindunya jadi nyanyian sunyi,
terpantul di ruang digital yang mati.

Ia berharap ada balasan,
meski hanya satu kata pelan.
Namun grup itu seperti awan,
berarak tanpa arah dan tujuan.

Rindu itu seperti ombak kecil,
menghantam pantai yang tak berpijak.
Grup itu bagai karang licik,
diam, keras, tak pernah retak.

Ia menulis seperti hujan jatuh,
di tanah yang tak lagi basah.
Rindunya jadi gema yang rapuh,
terkubur dalam sunyi yang pasrah.

Langit berubah jadi kelabu,
seperti chat yang tak pernah baru.
Ia menunggu di balik waktu,
meski tahu tak akan bertemu.

Ia kirim rindu seperti doa,
di grup yang tak lagi bersuara.
Sunyi menjawab dengan tawa,
menertawakan harap yang tak nyata.

Ia menulis seperti senja,
indah tapi cepat sirna.
Grup itu bagai cakrawala,
jauh, datar, tak pernah menyapa.

Rindunya jadi angin malam,
menyusup di sela-sela diam.
Grup itu bagai ruang kelam,
tak ada cahaya, tak ada salam.

Ia menulis rindu yang dalam,
seperti laut yang tak bertepi.
Grup itu bagai mimpi tenggelam,
hilang di antara notifikasi sepi.

Dan akhirnya ia berhenti mengetik,
biarkan sunyi jadi pemilik.
Rindunya tetap mengalir apik,
meski tak pernah ada yang melirik.

Makna Puisi Gema Rindu di Grup Kosong: Sunyi yang Tak Pernah Membalas

Puisi ini menggambarkan seseorang yang menulis rindu di grup chat yang sudah lama sepi. Grup itu jadi simbol dari hubungan yang dulu hangat, tapi kini dingin dan tak lagi hidup. Ia berharap ada balasan, tapi yang datang hanya sunyi. Setiap bait menggambarkan perasaan yang makin dalam, makin hampa, dan makin pasrah.

Alam dalam puisi ini jadi cermin dari perasaan manusia: langit kelabu, ombak kecil, kabut pagi, burung yang tak berkicau, semua itu menggambarkan rindu yang tak tersampaikan. Grup kosong itu seperti lembah sunyi, tempat gema rindu hanya memantul kembali ke hati sendiri.

Puisi ini juga menyentuh fenomena digital: bagaimana teknologi bisa jadi tempat kita meluapkan rasa, tapi juga bisa jadi ruang paling sepi. Kadang kita berharap ada “seen”, ada balasan, tapi yang datang hanya notifikasi hampa. Dan di situ, kita belajar bahwa tidak semua rindu harus sampai. Kadang, cukup ditulis dan dilepaskan.

Kadang, kita ngetik panjang di grup, berharap ada yang baca, ada yang bales. Tapi kenyataannya, nggak semua rindu punya tujuan. Nggak semua pesan harus dibalas. Dan itu nggak apa-apa.

Yang penting, kita udah jujur sama rasa. Kita udah berani menulis, meski tahu mungkin nggak akan dibaca. Karena menulis rindu itu bukan soal siapa yang membalas, tapi soal siapa yang berani mengakui bahwa ia masih merasa.

Jadi, kalau kamu pernah ngerasa kayak puisi ini, tenang aja. Kamu nggak sendiri. Sunyi itu kadang teman terbaik buat rindu yang nggak tahu arah. 🌙

Yuk selami puisi romansa, rindu, dan gamon yang bisa bikin hati kamu bilang “iya banget!” 💔📖 Di Bintang Senja, siapa tahu nemu bait yang bisa jadi pelipur luka.