Tertawa Bersamamu, Itu Rumah Bagiku
Tertawa Bersamamu, Itu Rumah Bagiku

Kehangatan Cinta dalam Puisi ‘Tertawa Bersamamu’

Diposting pada

Pernah nggak sih, kamu merasakan sebuah momen sederhana, seperti tertawa bareng pasangan, tapi rasanya kayak dunia udah lengkap? Puisi ‘Tertawa Bersamamu’ ini lahir dari perasaan itu. Gak perlu grand gesture, karena cinta sejati seringkali tersembunyi di hal-hal kecil: canda yang bikin perut sakit, obrolan random tengah malam, atau sekadar senyum gegara hal receh. Nah, puisi ini adalah reminder bahwa di tengah dunia yang kadang ribet, cinta tuh sederhana: ada di tawa, di pandang, dan di rasa ‘pulang’ ketika bersamanya. Yuk, selami kata-katanya dan temukan kehangatannya!

Tertawa Bersamamu, Itu Rumah Bagiku

Di antara senja yang merah merona,
Kau pecahkan sunyi dengan tawa bahagia,
Layang-layang waktu terbang tak berarah,
Tapi di pelukmu, aku temukan arah.

Tertawa bersamamu, dunia pun ringan,
Seperti hujan yang menari di daun pisang,
Kita tak butuh istana atau pualam,
Cukup duduk di lantai, cerita pun mengalir perlahan.

Suaramu adalah lagu tanpa partitur,
Memecah kebekuan hatiku yang kelam,
Di setiap lelucon yang tak sempurna,
Terkikik-kikik, jiwaku pun hangat kembali.

Kita seperti dua anak kecil,
Menertawakan hal-hal yang tak penting,
Tapi di mata kita, itu adalah harta,
Lebih berharga dari mutiara di samudra.

Tertawa bersamamu adalah doa,
Bahasa cinta yang tak perlu diterjemahkan,
Di antara ribuan kata yang terucap,
Hanya tawamu yang membuatku pulang.

Kadang kita seperti ombak dan pantai,
Saling menyapa, lalu pergi,
Tapi selalu kembali pada satu titik,
Di mana tawa menjadi pengikat abadi.

Mungkin cinta tak butuh deklarasi megah,
Cukup kau tersedak minum karena leluconku,
Dan aku tertawa melihat wajahmu,
Itulah momen di mana surga turun menyentuh.

Di tengah dunia yang terlalu serius,
Kita memilih jadi badut satu sama lain,
Tak perlu panggung atau lampu sorot,
Hanya dua hati yang saling memeluk waktu.

Tertawa bersamamu adalah pelarian,
Dari segala beban yang mencengkram,
Sejenak kita lupa pada hitungan,
Hanya ada kita dan momen yang jujur.

Kau dan aku, seperti kopi dan gula,
Tak sempurna jika dipisahkan,
Di setiap teguk, ada rasa manis,
Di setiap canda, ada cinta yang mengendap.

Bahkan saat air mata menggenang,
Kau tahu cara mengubahnya jadi tawa,
Seperti pelangi setelah hujan,
Kau hadirkan warna di antara kelabu.

Tak perlu pujian atau puisi indah,
Cukup kau tertawa saat aku terjatuh,
Lalu membantuku bangun sambil tersenyum,
Itu lebih berarti dari seribu purnama.

Tertawa bersamamu adalah kompas,
Menuntunku saat jalan gelap,
Di tengah badai atau kabut tebal,
Suaramu selalu jadi mercusuar.

Mungkin besok kita akan berubah,
Tua, beruban, atau penuh keriput,
Tapi selama masih bisa tertawa bersama,
Aku tahu, cinta ini takkan pernah usang.

Jadi biarkan waktu berlari,
Biarkan dunia sibuk dengan caranya,
Yang penting kita tetap punya ini:
Tertawa bersamamu—itu rumah bagiku.

Makna Puisi: Cinta yang Menemukan “Rumah” dalam Tawa

Puisi ini bercerita tentang cinta yang sederhana tapi dalam, di mana kebahagiaan ditemukan bukan dalam hal-hal besar, tapi dalam momen kecil seperti tertawa bersama.

  • “Rumah” di sini bukan sekadar tempat, tapi perasaan nyaman, aman, dan diterima sepenuhnya. Saat kita bisa tertawa lepas dengan seseorang, itulah tanda kita benar-benar “pulang”.
  • Tawa digambarkan sebagai bahasa cinta universal, tanpa perlu kata-kata romantis, tawa bisa jadi bukti kedekatan dan kepercayaan.
  • Gaya bahasanya santai tapi puitis, pakai majas metafora (contoh: “Kita seperti kopi dan gula”) dan personifikasi (“senja yang merah merona”) untuk bikin gambaran lebih hidup.
  • Rima dan irama sengaja dibuat mengalir seperti obrolan intim, supaya terasa natural tapi tetap indah.

Intinya, puisi ini mengajak kita menghargai kehangatan hubungan yang dibangun dari hal-hal receh tapi penuh makna. Karena di dunia yang serba cepat, justru momen “ngobrol sambil ketawa sampai sakit perut” inilah yang bikin cinta tetap hidup.

Di tengah hidup yang kadang bikin pusing, cinta sejati justru sering bersembunyi di momen-momen receh: saat kamu ngeledek pasangan karena salah kostum, ketawa gegara video kucing jatuh, atau sekadar bercanda sambil antri makanan. Itu semua adalah “rumah”, tempat di mana kamu bisa jadi diri sendiri tanpa takut dihakimi.

Nasihat buat Kamu:

  • Jangan tunggu grand moment untuk bahagia. Cinta tuh dibangun dari kumpulan hal kecil yang dilakukan tiap hari.
  • Prioritaskan tertawa bersama. Kalau hubunganmu masih bisa bikin kamu tersenyum di saat-saat random, itu tanda hubunganmu sehat!
  • Simpan momen ini baik-baik. Karena nanti saat usia menua, yang akan kamu rindukan justru obrolan-obrolan konyol ini.

Jadi, hari ini, coba deh rekam satu momen tertawa bareng orang tersayang. Entah itu lewat foto, puisi, atau sekadar mengingatnya di hati. Karena di situlah cinta sejati bersembunyi di antara tawa yang bikin perut sakit dan hati hangat.

Sampai jumpa di postingan berikutnya! ✨
Baca puisi lainnya di Bintang Senja: gamon, romansa dan rindu