Trafik Hati Macet Total
Trafik Hati Macet Total

Trafik Hati Macet Total: Menunggu yang Sudah Belok Tanpa Isyarat

Diposting pada

Duh, emang paling sebel kalau lagi lancar-lancarnya nyetir, eh tiba-tiba macet total. Tapi lebih parah lagi ketika hatimu yang macet gegara seseorang yang udah belok ke jalan lain dan bahkan tanpa kasih lampu isyarat! 😤 Puisi ‘Trafik Hati Macet Total’ terinspirasi dari mereka yang stuck di persimpangan rasa, nungguin yang enggak mungkin balik. Buat kamu yang pernah (atau lagi) ngerasain ini, siapin tissue dan gelato dulu. Yuk, kita telusuri bareng-bareng lewat kata-kata yang bikin kamu senyum-senyum kecut!

Trafik Hati Macet Total

Hujan turun membasuh aspal sunyi,
Angin berbisik di persimpangan hati.
Lampu merah menggantung pilu,
Sinyal rindu tak kunjung hijau lagi.

Aku terjebak di jalur kenangan,
Deru mesin waktu menggeram tak tentu arah.
Kau telah belok tanpa isyarat,
Tinggalkan jejak ban yang basah.

Biru langit memudar kelam,
Seperti janji yang kau ucap sembunyi.
Awan pun menangis pelan,
Menyiram jalan yang tak lagi kau lewati.

Daun-daun berguguran kering,
Bagaikan surat cinta yang tak terbaca.
Terinjak roda waktu yang melindas,
Hancur jadi debu di tepi trotoar rindu.

Sungai hati mengalir tersendat,
Batu-batu salah paham menghadang di dasar.
Air mata jadi sungai yang keruh,
Tak ada jembatan untuk menyebrang lagi.

Burung-burung pun enggan bertengger,
Di dahan yang rapuh digoyang badai.
Mereka tahu, ini bukan tempat pulang,
Hanya sisa sarang yang kosong melompong.

Matahari tenggelam di ujung jalan,
Meninggalkan bayang-bayangmu yang memanjang.
Aku masih di sini, terjebak senja,
Menanti gelap atau cahaya yang tak pasti.

Bulan tersenyum sinis di atas,
Memantulkan cahaya palsu di genangan air.
Seperti harapan yang kau tinggalkan,
Terlihat terang, tapi mustahil dipegang.

Kabut turun menyelimutu jalan,
Membuat semua tanda jadi samar.
Aku tersesat di peta usang,
Di mana namamu masih tercetak tebal.

Musim berganti, tapi aku masih di sini,
Seperti pohon tua yang akarnya terbelenggu.
Mencoba tumbuh, tapi tak bisa maju,
Karena tanah ini penuh dengan bayangmu.

Ombak laut menghempas karang,
Seperti keraguan yang terus mengikis keyakinan.
Kau sudah berlayar jauh,
Tapi aku masih terdampar di dermaga lama.

Bintang-bintang berkedip mengejek,
Mereka tahu aku masih menatap langit lama.
Di mana kau menghilang tanpa jejak,
Hanya tinggal rasi yang salah baca.

Fajar tiba dengan wajah baru,
Tapi mataku masih tertutup kabut kemarin.
Aku terjaga di mimpi yang sama,
Di mana kau masih ada di ujung jalan.

Hujan kembali turun membasuh,
Mungkin ini cara alam membereskan sisa-sisa.
Tapi kenangan seperti oli tumpah,
Selalu meninggalkan noda yang tak bisa hilang.

Lalu lintas hati tetap macet total,
Tak ada polisi cinta yang atur kemacetan ini.
Aku hanya bisa menunggu lampu hijau,
Atau mungkin… belajar berjalan kaki saja.

Makna Puisi: Trafik Hati Macet Total

Puisi ini tuh cerita tentang hati yang macet total gegara nggak bisa move on dari seseorang yang udah pergi. Alam di sini jadi cermin perasaan dari hujan, angin, jalanan, semua dipake buat gambarin betapa stuck-nya si aku lirik.

Misalnya, “Lampu merah menggantung pilu” itu simbol rasa nggak bisa maju, kayak lagi nunggu lampu hijau yang nggak pernah dateng. Atau “Kau telah belok tanpa isyarat” yang bikin sebel, karena doi pergi nggak kasih tanda-tanda dulu.

Ada juga “Batu-batu salah paham menghadang di dasar sungai”, yang artinya masa lalu bikin hati jadi keruh dan susah mengalir. Terakhir, “Aku hanya bisa menunggu lampu hijau / atau mungkin… belajar berjalan kaki saja” itu sindiran halus: “Aku bisa terus nunggu, atau akhirnya move on dengan cara sendiri.”

Intinya, puisi ini nggak cuma gamon, tapi juga ngasih subtle reminder: Kalau macet terlalu lama, berarti kamu harus cari alternatif jalan.

“Nah, gimana? Puisi tadi bikin kamu nyengir kecut sambil bilang, ‘Ih, ini gue banget sih?’ Tenang, macet di hati itu manusiawi yang nggak boleh adalah parkir terlalu lama sampai kena denda! 😆

*Kalau kamu lagi ngerasain kayak puisi di atas, inget ini:

  • Jalanan macet bisa dicari alternatif, hati juga bisa. Coba rute baru, kegiatan baru, atau teman baru.
  • Lampu merah nggak selamanya, suatu saat bakal hijau lagi, asal kamu nggak tutup mata.
  • Yang paling penting: Jangan jadi tukang parkir di kenangan! Hidup itu satu arah, sayang. Gaskeun!

Semoga puisi ini jadi teman pas kamu lagi macet-macetnya. Share ke teman yang juga perlu dengar: “Bro, kamu nggak sendirian!” 🚦💙

Kalau masih berat, boleh kok putar balik, tapi bukan ke mantan, ya. Tapi ke diri sendiri yang dulu bahagia tanpa dia. Cheers! 🍦

Puisi ini bikin kamu nyesek sekaligus relate? Tenang, masih ada cerita gamon lainnya di Bintang Senja. Yuk, telusuri koleksinya, siapa tau nemu puisi yang lebih relate!