Terlalu Dekat untuk Tidak Jatuh
Terlalu Dekat untuk Tidak Jatuh

Terlalu Dekat untuk Tidak Jatuh: Sahabat atau Cinta yang Terpendam?

Diposting pada

“Dari Teman Jadi… Lebih Dari Itu?”
Kalian pernah nggak, sih, tiba-tiba ngerasa butterflies in the stomach setiap deket sama sahabat sendiri? Awalnya cuma temenan, tapi lama-lama… wait, why does my heart skip a beat when they smile?
Ini bukan cuma cerita puisi romansa biasa. Ini tentang jarak yang terlalu dekat untuk tetap netral, tentang kebiasaan kecil yang tiba-tiba bikin jantung berdebar, dan tentang pertanyaan yang terus mengganggu: “Apa kita cuma sahabat… atau ada yang lebih?”
Kalau kamu pernah merasakan confusing antara pertemanan dan cinta, puisi ‘Terlalu Dekat untuk Tidak Jatuh’ mungkin akan bikin kamu tersenyum atau malah gelisah. Yuk, simak sampai habis!

Terlalu Dekat untuk Tidak Jatuh

Kau dan aku bagai dua musim yang bersinggungan,
Hangatmu seperti matahari di ujung Desember,
Tapi mengapa setiap tatap justru membuatku gemetar?
Seperti daun yang terjebak antara jatuh dan terbang.

Kita tertawa, bercanda, seolah tak ada rahasia,
Tapi bisikan hatiku lebih keras dari suaramu,
“Aku mencintaimu” tersimpan di balik senyum palsu,
Seperti puisi yang tak pernah sampai di ujung kertas.

Kadang kau menyentuh tanganku, tak sengaja,
Dan dunia berhenti sejenak atau hanya pikiranku?
Kulitku mengingat setiap titik kontak itu,
Seperti api kecil yang diam-diam membakar kayu.

Malam-malam panjang di telepon, suaramu dekat,
Kau cerita tentang dia, dan aku pura-pura tak peduli,
Tapi di balik tawa, ada sesuatu yang retak,
Seperti gelas bening yang pecah perlahan.

Aku tahu aturannya: jangan jatuh cinta pada sahabat,
Tapi bagaimana mungkin kutahan denyut ini?
Kau terlalu dekat untuk tetap netral,
Seperti laut yang tak bisa menolak pasangnya sendiri.

Kadang kau menatap terlalu lama, dan aku bertanya,
Apakah kau juga merasakan hal yang sama?
Ataukah ini hanya harapanku yang terlalu liar,
Seperti burung yang mengira langit adalah sangkarnya?

Jika kubilang “aku mencintaimu,” apa yang akan terjadi?
Akankah kita tetap begini, atau hancur berkeping?
Aku takut kehilanganmu, tapi lebih takut pada diam,
Pada semua kata yang tak pernah terucap antara kita.

Mungkin ini salah, mencintaimu diam-diam,
Tapi hatiku tak pernah bisa mendengarkan logika.
Kau adalah pelabuhan yang tak pernah kusampaikan,
Dan aku kapal yang terjebak di antara ombak dan rindu.

Kita berdua tahu, ada sesuatu yang mengambang,
Tapi tak ada yang berani menyentuhnya,
Seperti embun di pagi hari yang akan menguap,
Jika matahari terlalu terik menyinari.

Pernahkah kau membayangkan kita berbeda?
Bukan lagi sahabat, tapi dua insan yang saling mencinta?
Aku menulis skenario itu setiap malam,
Tapi pagi datang, dan kita tetap seperti semula.

Jika waktu memberiku satu keberanian,
Akan kuraih tanganmu dan katakan yang sebenarnya,
Tapi untuk sekarang, biarlah ini jadi rahasia,
Seperti surat yang tersimpan rapat di laci.

Kau terlalu dekat untuk tidak kucinta,
Tapi terlalu jauh untuk benar-benar milikku.
Mungkin inilah takdir kita: hampir, tapi tak sampai,
Seperti bulan dan laut selalu terhubung, tapi tak pernah bersatu.

Jika nanti kau tahu, maafkan aku,
Karena mencintaimu diam-diam adalah dosa terindahku.
Aku tak bisa memilih untuk tidak jatuh,
Bukan ketika kau ada di sana, selalu, seperti oksigen.

Mungkin suatu hari kita akan tertawa tentang ini,
Atau mungkin hanya aku yang tetap terjebak dalam ingatan,
Tapi untuk sekarang, biarkan aku tenggelam,
Dalam khayalan bahwa kau dan aku bisa lebih dari sekadar ini.

Dan jika akhirnya kita tak pernah menjadi “kita”,
Setidaknya aku pernah mencintaimu dengan seluruh salahku.
Karena kau adalah sahabat, tapi juga lebih dari itu,
Kau adalah cerita yang terlalu indah untuk tidak kusimpan.

Makna Puisi

Puisi ini bercerita tentang konflik batin jatuh cinta pada sahabat sendiri, sesuatu yang relatable banget buat banyak orang. Awalnya, hubungan kalian biasa aja: nongkrong, curhat, ketawa bareng. Tapi lama-lama, ada perasaan lebih yang muncul, dan itu bikin galau!

Puisi ini pakai banyak kiasan alam (musim, laut, bulan, burung) buat gambarin perasaan yang kompleks: deg-degan, takut kehilangan, harapan yang gak pasti. Ada ironi juga yang misalnya, “kau terlalu dekat untuk tidak kucinta, tapi terlalu jauh untuk benar-benar milikku.” Nah, ini nunjukin betapa sakit-sakit manisnya jatuh cinta sama sahabat.

Poin utamanya: cinta itu nggak bisa dipaksa, tapi nggak bisa juga ditahan. Kadang, meski kita tahu risiko besar (kehilangan pertemanan), hati tetep aja ngotot. Puisi ini juga akui rasa takut (“apa jadinya kalau kuungkap?”), yang bikin banyak orang memilih diam.

Intinya, puisi ini bukan cuma romantis, tapi juga melankolis. Karena cinta sahabat itu seringkali “almost, but not quite”, hampir terjadi, tapi mentok di batas yang ambigu.

Jadi, Gimana Kalau Jatuh Cinta Sama Sahabat Sendiri?

Kalau baca puisi tadi terus kamu jadi mikir, “kok mirip banget ya sama aku?”, berarti kamu nggak sendirian! Banyak orang pernah ngerasain hal yang sama: suka sama sahabat tapi takut kehilangan.

Dari aku untuk kamu:

  1. Coba baca situasi, apa dia kira-kira ngerasa hal yang sama? Ada tanda-tanda nggak?
  2. Kalau ragu, pelan-pelan aja. Kadang, perubahan kecil (e.g., lebih perhatian) bisa bikin dia sadar tanpa harus konfrontasi.
  3. Jangan dipendam terus-terusan, stres nanti! Kalau emang udah nggak tahan, cari waktu yang pas buat bicara.

Tapi ingat: apapun hasilnya, kamu kuat kok. Kalau dia nggak ngerasa sama, ya udah, setidaknya kamu udah berani jujur. Kalau dia ternyata ngerasa sama? Wah, selamat! Kamu baru saja memulai babak baru dalam hubungan kalian.

Yang penting, jangan sampe pertemanan hancur cuma karena awkward. Keep the vibe chill!

Sampai jumpa di postingan berikutnya! ✨
Baca puisi lainnya di Bintang Senja: gamon, romansa dan rindu