Teras Kosong Setelah Pamit
Teras Kosong Setelah Pamit

Teras Kosong Setelah Pamit: Jejak yang Tak Pernah Benar-Benar Hilang

Diposting pada

Pernah nggak sih, pulang ke rumah yang seharusnya sudah sepi, tapi rasanya… ada?Kayak teras masih hangat oleh obrolan kemarin, kursi kayunya masih berdebu oleh bekas duduk seseorang, atau mungkin langit senja yang sama, yang dulu sering kalian tonton berdua. Padahal, mereka sudah pergi. Tapi kenapa rasanya mereka cuma pamit sebentar? Nah, puisi gamon ‘Teras Kosong Setelah Pamit’ lahir dari rasa itu. Dari jejak-jejak kecil yang nggak mau hilang, meski waktu sudah berusaha menghapusnya. Buat yang pernah ngerasain betapa sunyi itu berisik, atau betapa kosong itu penuh oleh kenangan, ini puisinya buat kamu. Santai aja, baca pelan-pelan. Siapa tahu kamu nemu sedikit ceritamu di sini.

Teras Kosong Setelah Pamit

Teras ini masih menyimpan langkahmu,
Di ubin retak yang enggan berdebu,
Angin berbisik lewat jendela,
Membawa nama yang tak selesai terucap.

Kursi kayu merintih sendu,
Masih menahan bayang tubuhmu,
Dedaunan kering berjatuhan pelan,
Seperti waktu yang tak mau bergerak.

Gelas kopi separuh terisi,
Hitam pekat seperti malam yang kami tahani,
Lalat hinggap, lalu pergi lagi,
Hanya rindu yang betah di sini.

Tirai bergoyang tanpa sentuhan,
Seakan kau baru saja melepas gantungan,
Aku duduk di tangga yang sama,
Mendengar sunyi memanggil namamu.

Lampu teras berkedip sendirian,
Menyala redup, lalu mati perlahan,
Bintang-bintang di langit makin jauh,
Seperti senyummu yang kini kabur.

Tanaman di pot layu sebelah,
Yang kau siram dulu setiap petang,
Akar-akarnya masih menggenggam tanah,
Seperti aku yang tak bisa melepasmu.

Jam dinding berdetak lebih keras,
Setiap detik terasa seperti beban,
Jarum menit bergerak memutar,
Tapi kenangan tetap di tempat.

Bau hujan menempel di dinding,
Bercampur aroma minyak kayu putihmu,
Aku menutup mata, menghirup dalam-dalam,
Tapi yang tersisa hanya udara kosong.

Sapu masih bersandar di sudut,
Masih menunggu tanganmu yang rajin,
Debu-debu menari pelan,
Menggambar bayangmu di lantai.

Radio tua masih menyala,
Memutar lagu yang sering kau nyanyikan,
Suara sumbang, nadanya pecah,
Tapi lebih baik daripada sunyi.

Pintu bergerak sendiri tertiup angin,
Berderit seperti suaramu tertawa,
Aku menoleh, harap-harap cemas,
Tapi hanya bayanganku yang menatap.

Malam semakin dalam merangkul,
Tapi teras ini masih terjaga,
Menunggu sesuatu yang takkan datang,
Seperti aku yang tak bisa tidur.

Fajar menyingsing dengan malu-malu,
Mewarnai ubin dengan cahaya pucat,
Hari baru, tapi rasanya sama,
Kosong yang berisik oleh kepergianmu.

Aku tahu kau takkan kembali,
Tapi teras ini masih bersikeras,
Menyimpan jejak, merawat debu,
Bersumpah kau hanya sedang pergi sebentar.

Dan aku? Aku hanya diam,
Menjadi bagian dari rumah yang merana,
Menghitung hari yang tak berarti,
Di teras kosong setelah pamit.

Makna Puisi: Teras Kosong Setelah Pamit

Puisi ini bercerita tentang “kehadiran yang tetap terasa meski sudah pergi”, lewat benda-benda di sekitar rumah – teras, kursi, gelas kopi, sampai debu yang nggak mau hilang. Itu metafora dari perasaan kita ketika kehilangan seseorang: sebenarnya mereka sudah pergi, tapi kita (dan rumah kita) masih bersikeras seolah mereka cuma “pamit sebentar”.

  • Alam & benda mati jadi “saksi”: Angin yang berbisik, tanaman layu, jam dinding yang berdetak keras. Semua menggambarkan betapa kepergian seseorang mengubah cara kita memandang hal-hal kecil.
  • Kegamangan waktu: Puisi ini penuh kontras waktu (malam/fajar, detik yang terasa berat) untuk menunjukkan betapa kehilangan bikin waktu terasa absurd, seperti berhenti, tapi juga terus berjalan.
  • Rima & Irama: Rima yang konsisten (A-B-A-B) dan pengulangan kata (“masih”, “seperti”) bikin puisinya terasa melankolis tapi meditatif, kayak orang yang terus mengingat-ingat.

Intinya, puisi ini nggak cuma tentang rindu, tapi juga betapa rumah (dan hati) bisa jadi “museum” untuk kenangan yang nggak mau pergi.

Jadi, gimana? Kamu juga pernah ngerasain kayak puisi di atas, di mana hal-hal biasa tiba-tiba jadi “bukti” bahwa seseorang pernah ada?

Sebenarnya, nggak apa-apa kok kalau kita (atau teras kita) masih nyimpen jejak mereka. Itu bukti kita bisa mencinta dengan sepenuh hati. Tapi ingat, suatu hari nanti, debu akan hilang tertiup angin, kopi di gelas akan menguap, dan kita harus belajar duduk di kursi itu tanpa menunggu.

Yang pergi mungkin tak kembali, tapi jejaknya bisa jadi bahan untuk tumbuh, bukan jadi kuburan untuk hidup kita.

“Hidup itu seperti teras kosong yang kadang kita harus biarkan matahari pagi mengeringkan bekas air mata yang tertinggal.”

Kalau kamu sedang berproses “membereskan teras”-mu, baca juga puisi gamon lainnya di Bintang Senja.