Senyum yang Tak Tersimpan di Cloud
Senyum yang Tak Tersimpan di Cloud

Senyum yang Tak Tersimpan di Cloud: Romansa Manis yang Menyakitkan

Diposting pada

Duh, pernah nggak sih kamu tiba-tiba teringat seseorang… terus senyum-senyum sendiri, tapi sesaat kemudian hati langsung ‘error 404’? Cloud bisa nyimpan ribuan foto, backup chat, bahkan lagu-lagu yang udah nggak jaman. Tapi kenapa ya, ada senyum-senyum tertentu yang, sekeras apa pun kita coba upload, tetap aja corrupt pas dibuka lagi? Puisi ‘Senyum yang Tak Tersimpan di Cloud’ tentang romansa yang stuck di antara ‘save’ dan ‘delete’. Tentang senyum yang terlalu indah untuk dilupakan, tapi juga terlalu perih untuk diulang. Yuk, kita telusuri bareng-bareng kenangan yang cloud aja nggak sanggup simpan!

Senyum yang Tak Tersimpan di Cloud

Angin membawa kabarmu lewat daun yang bergemuruh,
Tapi awan diam, tak merekam jejak senyummu yang terkuluh.
Bahkan hujan pun menolak menghapus bekas langkahmu,
Di tanah ini, di mana aku masih menunggumu.

Sungai mengalirkan cerita lama ke laut,
Tapi batu-batu karang memilih untuk rajut.
Air asin tak sanggup larutkan rindu,
Seperti email yang terkirim, tapi tak pernah read-mu.

Matahari menyimpan warna senja di hard drive-nya,
Tapi layar hatiku error saat kau coba reload-nya.
Bahkan bulan yang setia mencatat setiap detik,
Tak bisa backup senyum yang kau tinggal statik.

Pohon menuliskan tahun-tahun dalam lingkar kayu,
Tapi akar-akarmu merambat di memori yang palsu.
Daun kering berbisik, “Lupakan saja,”
Tapi angin malah membawamu ke jendela.

Lampu jalan berkedip seperti notification,
Mengingatkanku pada status “us” yang tanpa caption.
Trotuar yang retak menyimpan jejak sepatumu,
Tapi tak ada cloud yang cukup untuk bayangmu.

Jam dinding mengetuk detak yang sama,
Seperti loop lagu yang tak selesai kau nyanyikan dulu.
Jarumnya menari di angka yang terlupa,
Tapi tak ada algorithm yang bisa ulang waktu.

Buku harianku penuh dengan tinta yang pudar,
Tapi kata “kamu” masih bold dan berwarna.
Kusimpan di folder “jangan-dibuka”,
Tapi mataku selalu click sendiri.

Pagar besi berkarat mencengkeram pagi,
Seperti firewall yang kurapatkan di hati.
Tapi kau tetap bisa hack lewat mimpi,
Memaksa cache kenangan untuk replay lagi.

Telepon umum bisu tak lagi terpakai,
Tapi nomormu masih saved di otak ini.
Kupencet hash “#pulang”, tapi invalid,
Sinyal cinta ini sudah no service sejak lama.

Tirai jendela menari dengan bayang palsu,
Memainkan film kita yang tanpa suara.
Layarnya sobek di adegan terakhir,
Tapi remote control-nya hilang yang tak bisa ku-rewind lagi.

Poci teh retak menguapkan hangat yang palsu,
Seperti janjimu yang menguap sebelum sempat kau teguk.
Gula di dasarnya mengkristal jadi kepahitan,
Tapi tetap kuminum, meski tahu akhirnya getir.

Papan catur di sudut ruang berdebu,
Bidak-bidaknya terjebak dalam stalemate rindu.
Raja kuberjalan di kotak hitam-putih,
Tapi tak ada jalan untuk checkmate lupa.

Kotak musik tua masih berdengung pelan,
Lagu favoritmu – separuh liriknya terhapus zaman.
Kuberharap rusak saja pegasnya,
Tapi malah terus bermain di kepala.

Kaleng cat lama menyimpan warna usang,
Kuning senyummu pudar jadi abu-abu yang galau.
Kuoleskan di dinding kamar yang kosong,
Tapi gambarmu malah makin jelas.

Langit malam ini penuh dengan constellation,
Tapi bintang-bintangmu sudah unavailable di location-ku.
Kucari Wi-Fi untuk download senyummu lagi,
Tapi password-nya “lupa”… dan aku tak bisa recover-nya.

Makna Puisi Senyum yang Tak Tersimpan di Cloud

Puisi ini tuh kayak gallery hp lama yang isinya foto-foto samar tapi nggak bisa di-delete. Alam dan benda-benda di sekitar kita (angin, sungai, lampu jalan, bahkan poci teh!) dipake buat ngegambarin betapa absurdnya perasaan pas kita kehilangan seseorang yang masih kita inget detail-detail kecilnya, tapi nggak bisa lagi kita pegang.

Cloud bisa nyimpan ribuan data, tapi kenangan soal dia tuh kayak file corrupt: nggak bisa dibuka, tapi nggak bisa juga dihapus. Ada yang pernah ngerasain nggak, liat sesuatu sederhana (misal lampu jalan berkedip) tiba-tiba keinget dia? Nah, puisi ini nangkep momen-momen itu pake metafora teknologi (error 404, Wi-Fi, notification) dicampur benda sehari-hari yang ternyata jadi saksi bisu hubungan kita.

Intinya: cinta yang udah berlalu itu kayak senyum yang ‘tak tersimpan di cloud’, terlalu berharga untuk di-delete, tapi terlalu berat untuk di-open tiap hari.

Nah, buat kamu yang baru aja baca puisi ini sambil gelagapan karena keinget mantan/seseorang… tenang, kamu nggak sendiri!

Memang sih, ada kenangan yang kayak file ‘read-only’: bisa dibuka, tapi nggak bisa di-edit apalagi di-replace. Tapi jangan lupa, storage hati kita itu luas banget. Suatu hari nanti, bakal ada ‘senyum-senyum baru’ yang bisa tersimpan dengan resolusi lebih tinggi, tanpa sisa cache yang bikin lag.

Kalo hari ini masih berat, gapapa. Nggak usah dipaksa empty recycle bin-nya. Pelan-pelan aja… toh, hidup itu loading-nya kadang emang lama. Yang penting, jangan berhenti click ‘next’.

Tetap keep the memories, but don’t let them crash your system. Cheers! ☕💻

Yuk, eksplor puisi-puisi seru lainnya yang nggak kalah bikin hati bergetar! Siapa tahu kamu nemu kata-kata yang pas banget sama perasaanmu. Di Bintang Senja biarkan puisinya bicara. 🌙📖