Semesta Sudah Lupa, Aku Masih Luka
Semesta Sudah Lupa, Aku Masih Luka

Semesta Sudah Lupa, Aku Masih Luka: Puisi Gamon yang Menyayat Hati

Diposting pada

Semesta Sudah Lupa, Aku Masih Luka Duh, pernah nggak sih kamu ngerasa kayak dunia udah move on, tapi kamu masih stuck di masa lalu? 🌌 Alam semesta mah cuek aja, matahari terbit, bulan bersinar, angin berhembus, semua jalan terus. Tapi kamu? Kamu masih berkubang dalam kenangan yang bahkan semesta aja udah lupa. Nah, puisi ini bikin merinding karena nyeritain betapa pedihnya jadi satu-satunya orang yang nggak bisa melupakan. Buat kamu yang pernah galau tingkat dewa atau masih bawa lama-luka dari masa lalu, puisi “Semesta Sudah Lupa, Aku Masih Luka” ini bakal bikin hati berdecak. Siap-siap merasakan sedih yang indah dan mungkin… nangis dikit. Yuk, scroll pelan-pelan dan biarkan kata-katanya menyentuh relung hatimu.

Semesta Sudah Lupa, Aku Masih Luka

Semesta tertawa, langit biru bersinar,
Angin berbisik, “Lepaskan saja,”
Tapi aku? Aku masih terjebak,
Dalam lorong waktu yang tak mau usai.

Bulan berganti, musim pun berlari,
Bunga-bunga layu lalu bersemi lagi,
Tapi kenangan ini, seperti duri,
Menancap dalam jiwa, tak mau pergi.

Lautan luas telah lupa pada ombak,
Pasir pun tak ingat jejak yang terukir,
Tapi aku? Aku masih terisak,
Menyimpan nama yang semesta hapuskan.

Matahari terbit, seolah berbisik,
“Kau tak sendiri, tapi mengapa terjatuh?”
Aku cuma bisa terdiam, terpaku,
Di tengah pesta yang tak lagi kumengerti.

Bintang-bintang tertawa riang di malam,
Mereka bergerak, aku tetap terpana,
Di layar tua yang terus diputar,
Film usang tentang kita yang sudah pudar.

Hujan turun, basahi jalanan,
Airnya mengalir, tapi duka ini mandek,
Seperti lukisan yang tak kering-kering,
Terpajang di galeri hati yang sepi.

Waktu berbisik, “Aku tak bisa menunggu,”
Tapi aku? Aku masih menoleh ke belakang,
Melihat bayangan yang sudah kabur,
Memeluk hantu yang tak lagi nyata.

Daun-daun berguguran, lalu tumbuh lagi,
Siklus alam yang begitu sempurna,
Tapi kenangan ini? Ia seperti api,
Membakar, tapi tak pernah jadi abu.

Kota ini berdenyut, orang-orang berlalu,
Mereka sibuk dengan cerita baru,
Aku? Aku masih duduk di sini,
Menghitung detik yang tak lagi berguna.

Langit menangis dalam rintik hujan,
Tapi aku? Aku sudah kehabisan air mata,
Hanya ada debu-debu lara,
Yang berterbangan setiap kau kusebut.

Musim dingin datang, salju menutupi,
Tapi dinginku lebih tua dari itu,
Sejak kau pergi, tak ada yang hangat,
Hanya sisa-sisa senyum yang beku.

Burung-burung terbang ke selatan,
Mereka tahu kapan harus pergi,
Tapi aku? Aku masih tersesat,
Di peta yang tak lagi menunjukkan jalan.

Malam semakin panjang, bintang semakin redup,
Tapi mataku masih mencari cahayamu,
Yang dulu pernah terang, sekarang hanya asap,
Menghilang di antara awan yang tak peduli.

Semesta sudah lupa, aku mengerti,
Dia terlalu sibuk dengan cerita lain,
Tapi aku? Aku masih terjaga,
Memeluk luka yang tak mau sembuh.

Mungkin besok aku akan bangun,
Melihat dunia dengan mata yang baru,
Tapi hari ini, izinkan aku menangis,
Untuk kenangan yang semesta hapuskan.

Makna Puisi

Puisi ini ngebahas perasaan “stuck” di masa lalu, sementara dunia di sekitar kita udah move on. Bayangin aja: alam semesta tuh kayak temen yang udah sibuk sama hidupnya sendiri, matahari terbit, hujan turun, orang-orang lalu lalang—tapi kita? Kita masih terjebak di memori yang bahkan semesta aja udah nggak inget.

Puisi ini pake kiasan alam (langit, laut, hujan, musim) buat nunjukin betapa kontrasnya perasaan kita yang “beku” dengan dunia yang terus berputar. Ada ironi juga: semesta itu netral, dia nggak peduli sama luka kita, tapi kita tetep aja ngerasa kayak “kok bisa sih semua move on, kecuali aku?”

Gambaran kayak “film usang yang diputar ulang” atau “lukisan yang nggak kering-kering” itu simbol betapa kita sering ngulang-ngulang kenangan sampe nggak bisa maju. Tapi di bait terakhir, ada sedikit harapan: “Mungkin besok aku akan bangun…” yang artinya, sedikit demi sedikit, kita bisa belajar melepaskan.

Intinya, puisi ini ngasih validasi buat yang lagi galau: “Nggak apa-apa kok ngerasa kayak gitu, tapi inget, dunia nggak berhenti buat siapapun. Suatu hari, kamu juga akan bisa jalan lagi.”

“Nah, gimana? Puisi tadi nyentil banget kan? 😢

Kalo kamu pernah ngerasa kayak “dunia udah melupakan, tapi aku masih terjebak,” inget ini: kamu nggak sendiri. Semua orang pernah ngerasain fase di mana masa lalu kayak lautan yang nggak bisa diseberangin. Tapi percayalah, lambat laun, airnya akan surut, dan kamu akan nemuin daratan baru.

Nggak perlu buru-buru move on, sedih itu manusiawi. Tapi jangan lupa, semesta tuh punya cara misterius buat bawa kita ke hal-hal yang lebih indah. Jadi, izinkan dirimu berduka, tapi jangan lupa buka mata lebar-lebar buat hal-hal baru yang mungkin udah nunggu di depan.

Sampai jumpa di postingan berikutnya! ✨
Tetap menulis, tetap merasa, tetap hidup.

Baca puisi lainnya di Bintang Senja: gamon, romansa dan rindu