Cinta Bertopeng Sinyal
Cinta Bertopeng Sinyal

Cinta Bertopeng Sinyal: Dekat Secara Virtual, Sepi Nyata

Diposting pada

Duh, siapa nih yang pernah ngerasain ‘dekat jauh’ sama doi cuma karena sinyal? Kita bisa video call berjam-jam, chat sampe baterai ngos-ngosan, tapi tetep aja ada rasa “sepi” yang nggak bisa diisi sama emoji atau stiker. Cinta Bertopeng Sinyal ini nggak cuma sekadar puisi, dia adalah cerita kita yang kadang “online” di WhatsApp, tapi “offline” di hati. Yuk, gulir ke bawah dan baca perlahan. Siapa tahu, ada bait yang bikin kamu manggut-manggut sambil bilang, “Nah, ini gue banget!”

Cinta Bertopeng Sinyal

Kita tersambung deretan angka ajaib,
Sinyal menghantar rindu dalam paket data,
Tapi mengapa getar di layar ini
Tak semerdu degup yang pernah terasa?

Ponselku bersinar seperti bintang kecil,
Menjadi mercusuar di gelap malammu.
Namun saat kau kirim senyum emoji,
Aku justru merindukan hangat telunjukmu.

WiFi berkata, “Kita dekat, sayang,”
Tapi kata-kata kerap buffering,
Terfragmentasi layar yang retak,
Di mana suaramu pecah jadi bayang?

Baterai merah menguap dalam rindu,
Low power mode, tapi mengapa sesak ini
Lebih dalam dari sekadar charging?
Dan kau, di seberang, tetap idle saja.

Aku adalah draft pesan yang tersimpan,
Terus mengambang di awan unsent;
Kau adalah notifikasi yang terlambat,
Selalu datang saat hati sudah sleep mode.

Voice note-mu berdesir seperti hujan,
Tapi mengapa air mata tak tertampung?
Kita berbincang lewat cloud storage,
Tapi mengapa memori justru kian hambung?

Layar touchscreen, tapi tak bisa sentuh,
Zoom-in wajahmu sampai piksel mengabur.
Kau dekat dalam jutaan pixel,
Tapi mengapa jiwamu justru blur?

Sticker hati bertaburan di chat,
Tapi kotak ini terasa lebih dingin
Darimu yang dulu menghangatkan lengan
Saat kita bertemu tanpa auto-reply.

Aku ingin restart seperti router,
Me-refresh cinta yang kerap loading,
Tapi kau hanya seperti pop-up ad,
Muncul sebentar, lalu hilang tanpa jejak.

Kita ibarat dua device yang pairing,
Tapi Bluetooth-nya sering error;
Saling terhubung, tapi tak tersinkron,
Seperti lagu yang skip di chorus favorit.

Signal bar kadang penuh, kadang hilang,
Seperti janjimu yang fluctuate;
Aku belajar mencintaimu dalam glitch,
Di antara lag dan harapan yang update.

Malam ini aku scroll foto-fotamu,
Zoom-in senyummu sampai low resolution,
Ternyata rindu tak bisa di-compress,
Ia malah memenuhi cache hati ini.

Kau bilang, “Jarak hanya angka di GPS,”
Tapi mengapa hatimu sejauh offline?
Kita online 24 jam,
Tapi mengapa percakapan kita expired?

Mungkin cinta kita cuma hotspot semu,
Koneksi cepat, tapi mudah disconnect;
Atau seperti battery saver mode,
Hidup, tapi tak sepenuhnya menyala.

Jika nanti sinyal ini benar-benar pudar,
Dan kita hanya jadi history chat,
Izinkan aku uninstall rindu pelan-pelan,
Sebelum memory internal-ku crash.

Makna Puisi

Puisi ini tuh sebenernya mirror banget sama hubungan zaman now yang serba digital. Kita bisa chat tiap hari, video call tiap malam, tapi tetep aja ada rasa “jauh” yang nggak bisa dijelasin. Sinyal kuat, tapi koneksi hati suka lemot.

Lewat personifikasi benda-benda kayak WiFi, baterai, atau notifikasi, puisi ini nunjukin betapa cinta di era digital sering cuma skin-deep yang kelihatan connected, tapi sebenernya lonely. Contohnya:

  • “Voice note berdesir seperti hujan, tapi air mata tak tertampung” = Kita bisa denger suara doi, tapi nggak bisa ngobrol beneran dari hati ke hati.
  • “Kita ibarat dua device yang pairing, tapi Bluetooth-nya sering error” = Hubungan yang on-off, kadang klop, kadang misscommunication.

Intinya, puisi ini pengingat buat kita: Jangan sampe teknologi bikin cinta jadi cuma surface-level. Karena sekuat apa pun sinyal, yang bener-bener bikin hubungan nyambung tetaplah kehadiran, usaha, dan ketulusan, bukan cuma online status.

Jadi gengs, gimana? Ada yang ngerasain vibe puisi di atas? 😢

Cinta di zaman sekarang emang kadang bikin baper, dekat di layar, tapi jauh di hati. Tapi jangan sampe kita kebablasen terjebak ilusi “kedekatan” yang cuma ada di dunia digital.

Nasihat kecil buat kita-kita yang lagi LDR atau bahkan deketan tapi kerasa jauh:

  1. “Quality time > notification count” — Video call 10 menit full attention lebih berharga dari 100 chat setengah-setengah.
  2. “Jangan jadi battery low buat doi yang bahkan nggak mau charge kamu” — Kalau doi selalu unavailable buat hal-hal yang penting buatmu, mungkin itu sign buat evaluate.
  3. “Cinta yang no signal pun bisa reconnect kalau dua hati mau commit — Teknologi boleh limited, tapi kreativitas dan usaha nggak ada batasnya.

Terakhir, inget ya: Cinta beneran nggak butuh sinyal kuat, tapi butuh hati yang kuat. 💪

Puisi lain yang ngena bakal datang soon! Pantengin terus Bintang Senja biar nggak kelewatan 💙📱