“Jarak itu kayak pisau, kan?
Kadang bikin sakit, tapi juga bikin kita makin sadar betapa berharganya seseorang. Tapi hey, jangan sedih dulu! Justru karena ada jarak, kita jadi punya cerita, punya puisi, dan punya alasan buat terus berharap. Nah, di puisi ‘Jarak Menyayat Rindu’ tentang bagaimana jarak nyat-nyet di hati, tapi sekaligus ngasih kita kekuatan buat tetap percaya bahwa suatu hari nanti, rindu ini bakal ketemu ujungnya. Buat kamu yang lagi LDR, atau mungkin cuma bisa memendam rasa, puisi ini bisa jadi temen curhat yang pas.
Gak cuma baper, tapi juga ngasih semangat. So, siapin kopi atau teh favoritmu, terus gulir ke bawah. Let’s go!
Jarak Menyayat Rindu
Jarak bukan sekadar angka di peta bisu,
Ia adalah pena yang menulis rindu,
Di setiap malam yang sunyi dan kelam,
Kau jadi puisi yang tak pernah usai.
Lautan memisah, tapi langit menyatu,
Awan bercerita dalam bahasa yang sama,
Angin membisikkan namamu pelan-pelan,
Senyap, tapi menggema di relung jiwa.
Rindu ini seperti api dalam hutan,
Tak terlihat, tapi hangatnya nyata,
Membakar setiap kata yang terpendam,
Menyala dalam gelap, tak pernah padam.
Jika jarak adalah dinding yang tinggi,
Maka ingatan adalah tangga yang panjang,
Kutapaki setiap anak tangga dengan sabar,
Hingga suatu hari, kudapat memelukmu lagi.
Waktu berlalu seperti sungai yang mengalir,
Tapi kenangan adalah batu yang tak tergeser,
Di setiap lekuknya terukir senyummu,
Abadi, meski badai mencoba menghapus.
Kadang kubertanya pada bulan yang pucat,
“Berapa lagi malam harus kujalani sendiri?”
Tapi bintang-bintang hanya tersenyum,
Seolah berkata, “Bersabarlah, ini sementara.”
Aku menulis bukan untuk melupakan,
Tapi untuk mengabadikan setiap detik bersamamu,
Tinta ini adalah darah yang mengalir,
Menyuburkan tanah hati yang gersang.
Jika kau adalah langit di ufuk timur,
Maka aku adalah senja di barat,
Kita tak pernah benar-benar bertemu,
Tapi cahayamu selalu menghangatkanku.
Jarak mengajarku arti kesabaran,
Seperti akar yang tumbuh perlahan,
Menembus tanah yang keras dan kering,
Hanya untuk mencapai sumber air kehidupan.
Mimpi adalah kapal yang kunaiki,
Membawaku melintasi samudra waktu,
Suatu hari nanti, pelabuhan itu nyata,
Dan kau akan menyambutku dengan pelukan hangat.
Aku tak lagi takut pada jarak,
Karena ia hanya ujian sementara,
Cinta adalah kompas yang menuntunku,
Selalu, selalu, mengarah padamu.
Jika rindu adalah luka,
Maka puisi adalah obatnya,
Setiap kata adalah jahitan halus,
Menyembuhkan, meski tak menghilangkan bekas.
Kubaca lagi surat-suratmu yang usang,
Setiap huruf adalah pelipur lara,
Di antara baris-baris yang kau tulis,
Kudengar suaramu, meski dari jauh.
Jarak mungkin menyayat,
Tapi ia juga mengajarkanku arti menanti,
Bahwa yang indah tak pernah instan,
Seperti bunga yang mekar setelah musim hujan.
Dan ketika akhirnya kita bertemu lagi,
Kisah ini akan jadi legenda abadi,
Tentang bagaimana jarak tak pernah menang,
Dan cinta adalah pemenang sejati.
Makna Puisi
Puisi ini bercerita tentang bagaimana jarak bukan cuma bikin rindu, tapi juga jadi bahan bakar buat terus berkarya, mengingat, dan berharap. Aku gambarin jarak kayak “pena yang menulis rindu” karena, hey, kalau nggak ada yang jauh, mungkin kita nggak akan sebanyak ini nulis puisi atau ngungkapin perasaan, kan?
Ada metafora alam kayak laut, langit, awan, dan angin buat nunjukin bahwa meski fisik jauh, kita tetep bisa “nyambung” lewat hal-hal yang lebih besar. Misalnya, langit itu satu, jadi meski kita beda tempat, kita masih ngeliat langit yang sama.
Puisi ini juga banyak pake kontras: api vs hutan, dinding tinggi vs tangga, luka vs obat. Tujuannya buat nunjukin bahwa di balik hal yang kayaknya negatif (seperti jarak), selalu ada sisi positifnya, kita jadi lebih sabar, lebih kreatif, dan lebih menghargai waktu bareng.
Yang paling penting, puisi ini mau bilang: Jarak itu cuma sementara, tapi cinta dan harapan tuh nggak ada kadaluarsanya. Jadi, selama masih ada rasa, jarak cuma jadi cerita lucu pas kita udah tua nanti.
Jadi gini, teman-teman…
Jarang memang suka bikin hati kayak diaduk-aduk, tapi inget: kamu nggak sendiri. Setiap orang yang pernah merasakan LDR atau jauh dari orang tersayang pasti ngerti betapa beratnya. Tapi, seperti puisi di atas, jarak juga bisa jadi guru yang ngajarin kita arti sabar, kreatif, dan bersyukur.
Nasihat kecil dari aku:
- Jangan diam aja pas rindu nyerang. Tulis, nyanyi, gambar, apa aja yang bikin hatimu plong.
- Lihat jarak sebagai tantangan, bukan penghalang. Relationship yang kuat itu dibangun dari ujian, bukan cuma dari moment bahagia doang.
- Percaya sama proses. Seperti puisi bait terakhir, yang indah itu butuh waktu. Nggak usah buru-buru, yang penting konsisten.
Sampai jumpa di puisi berikutnya! ✨
Baca puisi lainnya di Bintang Senja: gamon, romansa dan rindu