Aku pernah menitip rindu pada bintang yang berharap semesta membisikkan namamu pada angin. Tapi langit tidak menjawab seraya diam. Bintang-bintang hanya berkedip, seolah tak peduli pada rindu yang kian menggunung.
Rindu itu aneh, kan? Kadang ia seperti surat yang tak pernah sampai, seperti teriakan di tengah hutan yang hanya bergema lalu hilang. Puisi ini lahir dari rasa itu: saat kita berharap, tapi alam semesta memilih untuk tak menjawab.
Mari kita telusuri bait-baitnya, barangkali… kau pun pernah merasakan hal yang sama
Langit Tidak Menjawab
Ia titipkan rindu pada bintang,
Lewat angin malam yang pelan,
Namun langit tetap muram,
Tak ada balasan, hanya diam.
Bintang berkedip tanpa suara,
Seolah tahu tapi tak bicara,
Semesta jadi ruang hampa,
Tempat rindu tak punya arah.
Ia menulis rindu di awan,
Dengan tinta dari kenangan,
Tapi hujan tak pernah turun,
Hanya mendung yang berlarutan.
Langit biru jadi kelabu,
Saat rindu tak bertemu,
Ia menunggu di ujung waktu,
Namun semesta tetap bisu.
Angin berhembus membawa harap,
Tapi tak satu pun yang menetap,
Rindu jadi debu yang terbang,
Hilang di antara malam panjang.
Ia bicara pada bulan purnama,
Tentang rasa yang tak bernama,
Namun bulan hanya tersenyum,
Tanpa tahu luka yang diam-diam.
Bintang-bintang jadi saksi,
Rindu yang tak pernah pasti,
Langit jadi tempat menyepi,
Saat hati tak bisa berbagi.
Ia kirim pesan lewat cahaya,
Tapi semesta tak pernah membaca,
Rindu jadi puisi tak terbaca,
Terkubur dalam sunyi yang nyata.
Langit tak pernah menjawab,
Meski rindu terus mengendap,
Ia tetap menatap gelap,
Dengan harap yang makin lelap.
Ia titipkan rindu pada senja,
Namun jingga tak beri tanda,
Hanya bayang yang menyapa,
Lalu hilang tanpa suara.
Rindu jadi gema di angkasa,
Berulang tapi tak terasa,
Semesta jadi ruang tanya,
Tanpa jawab, tanpa makna.
Ia bicara pada pelangi,
Tentang cinta yang tak kembali,
Namun warna hanya menyepi,
Tak sanggup beri arti.
Langit jadi cermin luka,
Tempat rindu tak berujung kata,
Ia menunggu tanpa jeda,
Meski tahu tak ada sapa.
Ia titipkan rindu pada malam,
Namun malam terlalu dalam,
Gelapnya menelan harapan,
Tinggalkan hati dalam kesunyian.
Kini ia tak lagi bertanya,
Biarlah rindu jadi rahasia,
Langit tak menjawab selamanya,
Tapi ia tetap percaya.
Makna Puisi: Langit Tidak Menjawab
Puisi ini menggambarkan seseorang yang menyimpan rindu begitu dalam, lalu mencoba menitipkannya pada alam, bintang, langit, bulan, senja, pelangi. Tapi semua benda mati itu hanya jadi simbol dari semesta yang diam. Mereka tidak memberi jawaban, tidak memberi kepastian, hanya menjadi tempat pelarian rasa.
Setiap bait adalah refleksi dari manusia yang berharap, menunggu, dan akhirnya belajar menerima. Rindu yang tak terbalas bukan berarti tak berarti. Kadang, kita hanya perlu tempat untuk menitipkan rasa, meski tahu tak akan ada balasan. Alam dalam puisi ini bukan sekadar latar, tapi perumpamaan dari hati yang sunyi, dari cinta yang tak sampai, dan dari harapan yang perlahan menjadi pasrah.
Dan meski langit tak menjawab, ia tetap percaya. Karena dalam diam, ada kekuatan untuk bertahan. Dalam sunyi, ada ruang untuk menyembuhkan.
Kita sering terjebak dalam penantian akan sesuatu (atau seseorang) yang tak kunjung memberi kepastian. Tapi ingat:
- Langit yang tak menjawab bukan berarti kita tak layak dapat jawaban.
- Bintang yang bisu bukan berarti rindumu tak berarti.
Mungkin alam sedang mengajarkan kita untuk berhenti menunggu dan mulai melangkah. Jika langit tak mau bicara, coba dengarkan suara hatimu sendiri.
Kadang kita berharap semesta memberi tanda, tapi yang kita dapat hanya diam. Tapi nggak apa-apa. Rindu yang tak terbalas bukan akhir dari segalanya. Justru di situ kita belajar: bahwa rasa bisa tetap indah meski tak sampai.
Kalau kamu pernah merasa seperti puisi ini, menitipkan rindu pada langit yang tak menjawab. Ingat, kamu nggak sendiri. Ada banyak hati yang juga menunggu dalam diam. Dan mungkin, suatu hari, semesta akan menjawab dengan cara yang tak terduga.
Teruslah menulis, teruslah merasa. Karena rindu, meski sunyi, tetap punya makna.
Yuk lanjut baca puisi lainnya di Bintang Senja – siapa tahu hatimu nemu kata-kata yang selama ini kamu cari. 🌙
Kalau rindu belum selesai, mungkin bait-bait lain bisa jadi peluk diam yang kamu butuhkan. 💫
Eksplor aja, jangan ragu… puisi selanjutnya bisa jadi cermin rasa kamu hari ini.