Deru Angin dan Bisik Namamu
Deru Angin dan Bisik Namamu

Deru Angin dan Bisik Namamu – Puisi Rindu yang Memikat Hati

Diposting pada

Angin malam selalu punya caranya sendiri menyapa. Kadang ia datang pelan, membelai rambut; kadang ia berbisik, membawa nama yang lama tak terucap. Aku menulis puisi ‘Deru Angin dan Bisik Namamu’ – untuk mereka yang pernah merasakan rindu tiba-tiba datang seperti deru angin, menyentuh sudut-sudut hati yang sudah lama dikunci. Mungkin kau juga merasakannya: saat aroma hujan, desir daun, atau senyapnya malam tiba-tiba mengingatkanmu pada seseorang. Yuk, nikmati setiap baitnya. Siapa tahu, di sini kau menemukan kata-kata yang selama ini ingin kau ucapkan.

Deru Angin dan Bisik Namamu

Namamu datang bersama angin malam,
Membelai perasaan yang kubungkus rapi.
Seperti daun yang terjaga oleh senyam,
Bergoyang pelan, mengingat lagi.

Langit kelam menitipkan rindu,
Lewat desau yang merangkul sunyi.
Aku terdiam, mendengar bisimu,
Terngiang di ruang yang tak lagi berseri.

Angin bertutur dalam bahasa lama,
Menguliti waktu yang sudah mati.
“Masihkah kau kenang cerita kita?”
Tanyanya lirih, menusuk hati.

Burung-burung pun turut berbisik,
Menyanyikan nama yang pernah melekat.
Tapi kini hanya bayang yang kisik,
Terperangkap dalam debu dan bekas.

Malam menari dengan gerimis,
Membasahi jalan yang kita lewati.
Namun jejakmu telah sirna kabut,
Tinggal aku dan angin yang merindu.

Ombak laut pun ikut berucap,
Menggemakan suara yang pernah nyata.
Tapi samudra hanya menjawab,
Dengan gema yang tak bermakna.

Pohon-pohon menunduk pilu,
Merekam kisah yang terpendam.
Akar-akarnya merangkul luka,
Tumbuh dalam tanah yang kelam.

Bulan tersenyum penuh tanya,
“Kenapa rindu tak pernah usai?”
Aku menghela, tiada jawabnya,
Hanya angin yang mengulang lagi.

Sungai mengalir membawa cerita,
Tapi muaranya hilang di tengah jalan.
Seperti cinta yang tak sampai kata,
Hanyut dalam waktu yang tak berpihak.

Kabut pagi menyapu nama,
Menyembunyikan apa yang pernah ada.
Tapi angin tetap berbisik lama,
Mengingatkanku pada cinta yang tertinggal.

Ranting-ranting patah berderai,
Seperti janji yang tak sempat utuh.
Tapi alam tak pernah dustai,
Selalu setia membawa rindu.

Awan berlari menghindar,
Tak mau menanggung beban ini.
Hanya angin yang tetap setia,
Membawamu kembali dalam mimpi.

Hujan turun membasahi duka,
Mencuci luka yang belum kering.
Tapi namamu tetap melekat,
Di setiap tetes yang jatuh pelan.

Matahari terbit, tapi redup,
Seperti senyum yang tak lagi terang.
Aku bertahan dalam bisik kabut,
Menunggu angin membawamu pulang.

Jika nanti angin berhenti berhembus,
Dan alam tak lagi mengenali kita,
Biarkan waktu yang menulis akhir cerita,
Tapi rindu ini… tetap abadi di sini.

Makna Puisi: Angin, Alam, dan Rindu yang Tak Pernah Pergi

Puisi ini bercerita tentang kerinduan yang dibawa oleh alam, terutama angin. Aku menggambarkan alam (angin, pohon, burung, hujan) seolah-olah ikut merasakan rindu yang sama, seakan mereka adalah saksi bisu dari kenangan yang tersimpan.

  • Angin malam = Pembawa ingatan, suara yang mengingatkan pada seseorang yang sudah jauh.
  • Pohon, sungai, kabut = Simbol kesetiaan alam yang tetap “menyimpan” cerita, meski manusia mungkin sudah melupakan.
  • Bulan dan matahari = Penonton yang mempertanyakan mengapa rindu tak pernah benar-benar hilang.

Puisi ini juga bermain dengan kontras:

  • Gerak vs. Diam (angin yang berbisik vs. aku yang terdiam).
  • Hadir vs. Hilang (namamu yang dibawa angin vs. kenyataan bahwa ia tak benar-benar ada).

Intinya, alam di sini jadi cermin perasaan manusia yang kadang lebih jujur daripada kata-kata yang kita ucapkan.

Puisi ini bikin kamu teringat seseorang, mungkin itu tandanya… angin sengaja membawamu ke sini hari ini. 🌬️

Rindu itu aneh, ya? Kadang datang seperti angin malam datang tanpa permisi, tanpa alasan. Tapi justru karena itulah kita manusia: kita ingat, kita merindu, dan itu tak pernah salah.

Nasihat kecil dari aku:

  • Jangan takut merasakan rindu, karena itu bukti kamu pernah punya sesuatu yang berarti.
  • Tapi jangan biarkan rindu mengunci kamu di masa lalu. Alam saja terus bergerak (angin berhembus, sungai mengalir), kamu juga harus bisa.

Kalau suatu hari nanti angin membawa namanya lagi, tersenyumlah. Mungkin itu cara semesta bilang, “Tenang, kau tidak sendirian.”

Kalau puisi ini menyentuh hatimu, coba share ke seseorang yang mungkin butuh baca ini hari ini. Siapa tahu, angin sedang membisikkan hal yang sama ke mereka. 💙

Puisi selanjutnya bakal makin dalam dan menyentuh hati. Jangan ke mana-mana, karena setiap luka punya cerita yang belum selesai. Stay tune di Bintang Senja, biar nggak ketinggalan bait-bait yang bisa jadi cermin perasaanmu!