Hai kamu yang suka nyimpan rindu di kolong jantung,
Ada kalanya rindu itu nggak perlu diteriakin ke langit, tapi cukup diendapin pelan-pelan kayak puisi ini. ‘Sepi di Ujung Nama’ itu kayak temen setia buat mereka yang cuma bisa ngulang-ngulang nama doi di kepala, tapi nggak pernah bisa ketemu. Puisi pendek, tapi rasanya kayak ditampar sama kenyataan. Siap-siap merinding, ya!
Sepi di Ujung Nama
Kusebut namamu lirih dalam senyap,
Seperti angin yang tak pernah menetap.
Rinduku tumbuh di tanah yang gersang,
Tak bersuara, tapi terasa benderang.
Namamu kupanggil di antara doa,
Namun jarak menjelma jadi luka.
Tak bisa kutemui, tak bisa kusapa,
Hanya bayangmu yang setia menyapa.
Di ujung malam yang dingin membeku,
Ada rindu yang tak tahu harus ke mana.
Kau hadir dalam sunyi yang pilu,
Menjadi gema dalam dada yang hampa.
Aku menanam rindu di ladang bisu,
Tak tumbuh bunga, hanya bayang semu.
Namamu jadi mantra yang tak jemu,
Meski tak pernah kau tahu itu.
Langit pun tahu aku menyebutmu,
Dalam tiap detik yang tak menentu.
Namun semesta tak pernah restui,
Pertemuan yang hanya jadi ilusi.
Kau bagai senja yang tak pernah selesai,
Indah, tapi selalu pergi usai.
Aku menunggu di batas harap,
Meski tahu, kau tak akan menetap.
Namamu kutulis di dinding hati,
Dengan tinta rindu yang tak henti.
Tapi kau jauh, tak bisa kusentuh,
Hanya bisa kupeluk dalam peluh.
Aku diam, tapi rinduku nyaring,
Berteriak dalam dada yang kering.
Kau tak dengar, kau tak tahu,
Bahwa namamu jadi candu.
Setiap malam, kusebut namamu,
Seperti mantra yang tak pernah jemu.
Namun pagi datang tanpa kabar,
Kau tetap jauh, tetap samar.
Aku tak butuh jawabanmu,
Hanya ingin kau tahu,
Bahwa di ujung namamu,
Ada sepi yang tak pernah berlalu.
Rindu ini bukan sekadar kata,
Ia hidup, bernapas, dan nyata.
Tapi tak bisa kutitipkan padamu,
Karena kau tak pernah menolehku.
Aku menulis puisi dari jarak,
Tentang cinta yang tak pernah genap.
Namamu jadi judul yang abadi,
Dalam kisah yang tak pernah jadi.
Kau tak tahu, tapi aku tahu,
Bahwa menyebutmu adalah rindu.
Yang tak bisa kusampaikan,
Hanya bisa kusimpan dalam diam.
Sepi ini bukan karena sendiri,
Tapi karena kau tak di sini.
Namamu jadi rumah yang kosong,
Tempat rindu pulang tanpa tolong.
Kini aku berhenti menyebutmu,
Bukan karena tak rindu.
Tapi karena aku tahu,
Sepi di ujung namamu tak akan berlalu.
Makna Puisi: Sepi di Ujung Nama
Puisi ini tuh kayak curhatan orang yang ngerinduin seseorang tapi cuma bisa nyebut nama doang, nggak bisa ketemu, apalagi ngobrol. Bayangin aja, nama itu jadi semacam “jimat” buat nampung rindu, meskipun doi nggak pernah ngeh sama sekali. Setiap baitnya nunjukin gimana rindu bisa tetap hidup meski disembunyiin: di balik doa, di tengah malam sunyi, atau bahkan di draft chat yang nggak pernah dikirim.
Ini bukan cerita cinta romantis ala drakor yang berbalas, tapi lebih ke “gue rela nyimpen perasaan ini meski akhirnya cuma jadi kenangan”. Bahasanya poetic banget pake metafora kayak “namamu jadi rumah kosong” atau “ngebangun rindu di ladang bisu”, yang bikin kita ngerti betapa ruwetnya merindu diam-diam. Buat kamu yang pernah ngerasain “suka tapi cuma bisa gigit jari”, puisi ini bakal bikin kamu ngangguk-ngangguk sambil bilang, “Nah, ini dia!”.
Intinya: Rindu nggak harus keluar biar valid, kadang, diam-diam aja udah cukup (meski sakitnya minta ampun). 😄
Kadang, kita nggak butuh alasan kenapa bisa rindu. Cukup satu nama, dan hati kita langsung penuh sesak. Sepi di Ujung Nama bukan sekadar puisi, tapi cermin dari banyak hati yang memilih diam, karena tahu tak semua rindu harus sampai.
Kalau kamu sedang menyimpan rindu yang tak bisa kamu sampaikan, ingatlah: kamu nggak sendiri. Banyak hati yang juga memilih diam, tapi tetap kuat. Dan itu bukan kelemahan, itu bentuk cinta yang paling tulus.
Karena tak semua nama harus dipanggil keras-keras. Kadang, cukup disimpan di ujung doa, dan itu sudah cukup berarti. 💌
Kalau kamu suka puisi ini, jangan ragu untuk baca puisi lainnya di blog ini ya. Siapa tahu, kamu menemukan kata-kata yang bisa mewakili hatimu. 🌾
Baca puisi lainnya di Bintang Senja: gamon, romansa dan rindu